Andai Hidup Itu Seperti Hidangan !

andai hidup sebuah hidangan

Saat saya kecil setiap kali makan ibu dan nenek saya selalu mengatakan “ayo habiskan!”. Maklum waktu itu hidup sangat pas pasan. Saya tidak mengenal prasmanan, bahkan apa yang tersedia kerap tidak cukup memenuhi rasa lapar

Saat saya mulai menjadi orang, dapat kesempatan makan ala prasmanan, yang tersedia banyak sekali. Tak ada lagi nasehat: “ayo habiskan semua!”. Kalaupun ada, paling pesannya: “makanlah sepuasnya!”

Setelah umur 30an, saya mulai kenal asam urat dan kolestrol: kehidupan menasehatiku: “Tidak semua yang terhidang mesti dimakan, hindarilah makanan tertentu, agar tidak memicu asam urat dan kolestrol naik”!

Umur 40an, saya harus menjadikan diet sebagai gaya hidup, kehidupan menasehatiku:
“tidak setiap kesempatan makan harus diambil. Tidak semua yang terhidang harus dimakan. Berhentilah makan sebelum anda merasa cukup! Bisa melewatkan kelezatan itu prestasi! Apa yang tidak engkau sukai seringkali itulah yang terbaik untukmu! Sebaliknya apa yang engkau sukai mungkin membahayakanmu.Tentukanlah segala sesuatu dengan niat baikmu, kelolalah suasana makan dengan akal sehat.

Bila hari ini engkau gagal diet tebuslah esuk dengan mengurangi jatahnya!”

Lalu, saya berpikir: bukankah dalam segala hal saya harus berniat jelas, mengelola dengan baik, menguasai keinginan dan selera. Bukan sebaliknya dikuasai keinginan dan selera! Dengan sekuat tenaga saya harus melompati jebakan selera!”

Seharusnya nasehat seperti ini sudah saya peroleh sejak kecil. Apalagi sudah lama saya juga belajar berpuasa!

Bgoro, 11 Juni 2015
Kang Yoto

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...