Apakah Lembaga Pendidikan dan Para Guru Kita Telah dan Akan Gagal: Meyakinkan Sekolah Itu Penting ?

Selamat pagi bapak ibu, kakang, adik, mbakyu semua!

Semoga setiap yang kita terima adalah anugerah terbaik, kita selalu siap menjalani semua proses hidup sebagai kenikmatan ibadah dan perjuangan mengubah nasib rakyat kita agar lebih sehat, cerdas, produktif dan bahagia….

Pagi ini saya membaca email dari warga di Miyono Sekar ujung selatan Bojonegoro, agar ikut merasakan saya kutip seluruh E-mail yang menurut saya relevan dengan apa yang kita hadapi saat ini. Bagaimana menyiapkan anak anak muda Bojonegoro, yang mungkin juga di luar Bojonegoro, untuk jauh lebih mampu menciptakan kualitas kehidupan lebih baik dari kita semua.

“Assalamualaikum”

Maaf mengganggu sebelumnya,

Di desa saya khususnya di dekat dekat rumah sy ada beberapa anak yang putus sekolah, yang usianya masih di bawah 23 tahun. Hal ini terkadang bukan di sebabkan karena tidak mampu melainkan karena faktor anaknya tersebut tidak minat sekolah dan orang tuanyapun tidak menganggap pendidikan itu penting. Ada juga mereka yang punya kartu kph tetapi tidak melanjutkan. Kalau menurut saya masalah ekonomi ini tidak bisa di buat alasan anak tidak bisa melanjutkan sekolah, karena jika ada niat pasti ada jalan. Dan di desa pun sudah ada SMK Negeri yang bisa di katakan murah. Kebanyakan orang di desa saya banyak yang punya ternak, dan mereka lebih Eman kalau ternak tersebut di jual untuk biaya anaknya sekolah ke jenjang SLTA sederajat. kalau saya menasehati akan pentingnya pendidikan atau memotivasi mereka untuk mau melanjutkan sekolah kembali saya tidak akan di dengar pak. Karena mereka menggap saya orang biasa dan masih bocah pula. Apalagi saya kuliah mengambil jurusan pertanian, banyak orang mentertawakan, mencemooh bahkan hanya memandang sy hanya sebelah mata. Mungkin karena mindset mereka yang menggap profesi petani itu rendah dan pasti hidupnya susah. Saran dari saya untuk mengatasi anak yang putus sekolah itu bapak bisa memintaku tolong untuk minta para pak kades mendata serta mewajibkan anak tersebut untuk sekolah. Dan apabila orang tuanya benar benar tidak mampu dalam arti tidak punya ternak dan tidak memiliki kartu kph baru di beri bantuan khusus untuk biaya pendidikan anak tersebut. Biasanya kalau yang menasehati pak lurah mereka lebih mendengarkan. Terima kasih

Yarita desa Miyono kecamatan sekar.”

Saya menangkap pesannya: banyak anak yang tidak sekolah lantaran orang tua dan anaknya tidak mengganggap sekolah itu penting! Sejenak saya berpikir “jangan jangan benar anak dan orang tua itu”. Sebuah kesimpulan ala kampung setelah menyaksikan anak anak hasil didikan SLTP dan SLTA, bahkan alumni perguruan tinggi toh nyatanya tidak mampu hidup lebih baik. Banyak yang lulusan sekolah pulang kampung hanya mampu jual sawah atau ladang orang tuanya.

Bayangkan, bagi mereka yang hidup dan tetap ingin tinggal di sekar, sebuah wilayah yang jaraknya 70 km dari kota Bojonegoro, di bawah gunung pandan, jenis ketrampilan utama yang mereka padang penting buat modal hidupnya adalah bagaimana bisa atur diri sendiri dan bisa memenuhi kebutuhan dasarnya.

Hingga kini mereka belum melihat dengan jelas hubungan peningkatan pertanian, kualitas lingkungan dan ketangguhan sosial dengan proses pendidikan sekolahan. Mereka tidak pernah bermimpi menjadi pegawai kantoran atau pabrik, karena paham jumlahnya terbatas. Mereka merasa lebih mulia dan tepat menghidupkan dan mengolah apa yang ada di lingkungannya.

Lalu untuk apa mereka pergi ke sekolah yang mereka saksikan setiap hari dari anaknya yang sekolah dasar atau anak tetangganya dan dari kehidupan para gurunya, sekolah lebih peka soal seragam, menghafal, baca buku yang isinya jauh dari kebutuhan, sesekali diundang kepala sekolah saat dimintai bantuan bangun pagar sekolah. Sekolah bahkan menjauhkan dari kehidupan mereka sehari hari dan tantangan nyata yang dihadapinya.

Apakah kita dan dunia pendidikan telah gagal meyakinkan dengan bukti nyata bahwa sekolahlah tempat mendidik agar anak anak memiliki ketrampilan kehidupan yang lebih baik?. Sudah waktunya setiap guru dan sekolah berorientasi pada melatih ketrampilan hidup (life skill). Mari dekatkan sekolah dengan dunia nyata dan mari bawa masalah nyata dalam kehidupan di sekolah.

Salam

Baca Juga Dari Kang Yoto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.