Beruntung Menjadi Bojonegoro

drs suyoto msi

Bupati Bojonegoro, 25-27 Agustus 2013, berada di Ghana Afrika, untuk memenuhi undangan Ford Foundation (FF) dan African Centre for Economic Transformation (ACET), untuk ikut membicarakan bagaimana memastikan industri migas tidak membawa kutukan, tapi berkah bagi kesejahteraan rakyat. Dengan focus utama pengurangan kemiskinan, hal inilah yang menjadi focus pembahasan, dalam forum yang sejatinya dilaksanakan dari tanggal 25 sampai 30 agustus 2013.

Kang yoto diminta membicarakan 2 topik, yaitu soal transparansi dan bagaimana menggunakan pendapatan migas untuk mengurangi kemiskinan. Pada Session 1 (dihari pertama), topiknya: Transparancy in extractive industry governance: pemimpin diskusi adalah ms. mia steinle-project on goverment oversight, POGO (USA),

Dengan pembicara :
– Mr. Gerardo castillo, societas social analysis cansultant (Peru),
– Shamiso, mtisi, (Zimbagwe), –
– dan Suyoto mustajab (Goverment Indonesia)

Untuk panel kedua (di hari kedua), dipimpin:
Mr. Anne Mayer (IANRA south africa) danAlex Irwan (ford Indonesia)
Pembicara: Suyoto Mustajab (kang Yoto) ,
-Mr Isaac Isuoka (Nigeria),
-dan Mr. Moussa Ba, Oxfam America(sinegal)

Berdasarkan pengalaman, KY menyampaikan bahwa banyak pelajaran berharga, bahwa eksploitasi sumberdaya alam, termasuk didalamnya migas, emas, timah, perak, mutiara tidak selamanya membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Inilah yang disebut dengan kutukan sumberdaya alam. Bila mengambil sumberdaya alam dan tidak ada yang dikembalikan ke alam maka alam akan mengutuk.

Bentuk pengembalian itu berupa pengolahan alam secara optimal dan baik, tidak merusak lingkungan untuk aktifitas ekonomi yang mendatangkan kesejahteraan bersama dan menggunakan pendapatan untuk menciptakan kemampuan ekonomi yang tergantung pada sumberdaya alam yang bisa habis.

Dengan demikian akan tercipta cadangan ekonomi baru yang bisa jadi lebih baik, setelah eksploitasi alam.
Alih alih menciptakan cadangan baru, diberbagai belahan dunia yang terjadi justru sebaliknya. Alam rusak, ekonomi masyarakat tidak tumbuh. Kalaupun ada yang menikmati, hanyalah para elite ekonomi dan politik lewat konspirasi korup.

Sebagian negara ada yang menghibur rakyatnya dengan memberikan kemurahan beberapa jaminan sosial namun mengabaikan keberlanjutan dalam jangka panjangnya. pengamatan Bupati, dapat dikatakan bahwa Norwegia disebut sebagai contoh terbaik, negara yang mampu melawan sumberdaya alam (reversing natural rechources curse). Pada umumnya negara negara Afrika masih mengalami masalah, dan perlu perjuangan keras, menghindari kutukan alam.

Yang paling mengejutkan ketika mendengar paparan Nigeria, Peru, Zimbagwe, dan lainya, yang mengemukakan bahwa eksploitasi sumberdaya alam berlangsung luar biasa namun rakyatnya belum menikmati. Kualitas kesehatan rendah, perumahan buruk, pertanian di pedesaan bermasalah.
Lalu mengapa eksploitasi sumberdaya alam tidak membawa kesejahteraan? KY menyimpulkan Sebabnya antara lain: belum atau kurang diterapkan standart transparansi, pengelolaan alam yang jelek, dan penggunaan hasil eksploitasi yang salah, tidak mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Kondisi ini diperburuk oleh korupsi dan struktur politik dimana pusat sangat kuat dan daerah tidak berdaya. Beberapa pemerintah lokal lebih banyak bergantung secara politik dan keuangan kepada pusat.

Diperlukan kerjasama internasional yang dapat mengadvokasi penerapan standart transparansi, lingkungan hidup, hak asasi manusia dan mendorong penggunaan pendapatan hasil pertambangan untuk pembangunan berkelanjutan, termasuk di didalamnya pengurangan kemiskinan. Kita perlu belajar bersama sama dari pengalaman gagal dan keberhasilan orang lain. Untuk alasan inilah, sebenarnya kang yoto diundang.

Seperti juga pada konfrensi Asian di Davao Philipina, Bojonegoro diminta menceritakan pengalaman dalam menerapkan trasparansi dan program pembangunan, pengurangan kemiskinan. Direktur eksekutif Ford Foundation untuk afrika barat, Joseph Gitari yang pernah berkunjung ke Bojonegoro tahun lalu, setelah mendapatkan gambaran dari NGO Wach You Pay dan Ford Indoensia. Saya yakin dialah yang berisiatif atau memperkuat kehadiran saya di forum yang diselenggarakan FF bersama dengan ACET.

Forum ini sendiri sangat serius, para profesor, DR, aktifis kelas satu di negara masing masing hadir. Semua menyiapkan bahan serius dan secara bergiliran menjadi pembicara. Dari lima benua hanya perwakilan Australia yang tidak ada. Dua makalah yang disajikan KY digandakan dan menjadi bahan utama.

Bupati yakin bahwa Bojonegoro telah memilih jalan yang benar dalam mengelola eksplorasi dan eksploitas migas, namun bukan berarti urusannya sudah beres, diam dan memuji diri. Justru tantangan terberat adalah untuk terus mendaki, berjalan dengan segala kekuatan mencapai puncak harapan, pembangunan kesejahteraan dan kebahagiaan secara berkelanjutan. Menyejahretakan buruh tani, petani yang bersawah kecil, memerlukan terobosan pilihan komoditas yang tepat, dukungan infra struktur, pelatihan, permodalan dan jaringan pemasaran.

Bila migas menjadi rebutan para investor, sehingga Pemerintah tinggal mengatur. Namun, mengubah hasil pertanian (peternakan dan perkebunan) yang melimpah menjadi modal untuk menciptakan nilai tambah (industri) agar tercipta lapangankerja baru, Pemkab harus proaktif.

Bojonegoro perlu ikon yang membuat orang luar memandang Bojonegoro, agar apa yang kita hasilkan dilirik. Kemampuan untuk mengelola migas adalah salah satu faktor yang sudah diakui oleh dunia terhadap Bojonegoro.

Keberangkatan Bupati Bojonegoro di forum-forum penting dunia, akan meningkatkan kredibilitas Bojonegoro, secara nasional maupun internasional.

Hal tersebut, Sekaligus menjadi wujud dari sebuah tekad bersama, bahwa Bojonegoro telah memulai dan akan terus mendaki! Kita semua, tanpa terkecuali, mesti mengambil bagian. Termasuk para guru harus menjadikan sekolah sebagai motor bagi lingkungannya. (KY@Ghana)

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...