Bojonegoro, 1900-1942: A story of endemic poverty in north-east Java- Indonesia

Paperback: 144 pages
Publisher: Gunung Agung (1984)
Language: English
ISBN-10: 9971927063

Bojonegoro diketahui termasuk area yang dikenal miskin. Bahkan, potret kemiskinan tersebut diabadikan dalam bentuk buku berjudul “Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North-East Java-Indonesia”. Buku tersebut dikarang oleh C.L.M Penders.

Dr C.L.M Penders, pengajar sejarah di Jurusan Sejarah Universitas Queensland, Australia. Penders melukiskan bagaimana bencana terbesar pernah terjadi di Bojonegoro dari tahun 1937 hingga 1940.

Banjir selama beberapa bulan merusak semuanya. Hujan memang luar biasa karena terjadi sejak akhir April hingga Agustus 1937. Penyakit malaria dan kelaparan merajalela di kalangan penduduk desa-desa daerah itu, terutama di Baureno.

Gubernur van der Plas mengirim bantuan darurat 50.000 gulden pada awal 1937, lalu menaikkan hingga 211.000 gulden pada akhir tahun. Ribuan paket bantuan dibagikan kepada penduduk. Data April 1939 menyebut, 10.205 orang memperoleh bantuan. Tercatat 776 orang dirawat di rumah sakit, 104 orang di antaranya kemudian meninggal.

Setelah kemerdekaan, kemiskinan tetap saja menjadi bagian yang nyata penduduk Blora dan Bojonegoro. Fenomena sosial yang terkait erat dengan tindak kriminalitas dan kebodohan itu juga terus berlanjut bahkan hingga sekarang.

Pencurian-pencurian kayu jati, yang memuncak pada awal-awal era reformasi, terus terjadi di Bojonegoro. Ketika warga lapar dan mata gelap karena tak ada pekerjaan, rasa takut ditangkap aparat pun menurun.

Ada yang bilang, mereka hanya mengambil sedikit, sebagian besar kayu jati “dirampok” orang di Jakarta. Sedang di Bojonegoro, para petani dan buruh miskin makin miskin karena sawah-sawah masih tetap diganggu air yang meluap dari Bengawan Solo.

Penyebabnya sederhana, mental birokrat yang bobrok dan kepicikan kaum pribumi.

Kekayaan alam sebelum ditemukan minyak pada zaman kolonial yang melimpah, seperti hutan jati dan tembakau ternyata belum mampu mengangkat derajat kesejahteraan rakyat Bojonegoro.

Bahkan, rakyat terjerat dalam belitan renternir Belanda dan pribumi kaya saat itu. Ada sejumlah penyebab Bojonegoro mengalami kemiskinan yang hebat saat itu, di antaranya minimnya irigasi, diskriminasi pendidikan, dan terjerat utang yang menumpuk kepada renternir.

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...