Bupati Bojonegoro Ajak Warga Hidup Selaras dengan Bencana

Liputan6.com, Bojonegoro – Banjir seolah menjadi agenda tahunan bagi masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, karena wilayah tersebut dilalui aliran dari Sungai Bengawan Solo. Pascabanjir menghilang, kekeringan membuat 80 % warga di sana yang berprofesi petani kerap merugi hampir sepanjang tahun hingga nyaris menghentikan ekonomi warga.

Memahami kondisi wilayahnya yang luas, bupati yang akrab disapa Kang Nyoto itu kerap ke pelosok-pelosok untuk menghimpun masalah warganya. Soal rawan bencana, ia pun memutuskan untuk mengajak masyarakat hidup selaras dengan bencana.

Sebagai solusi banjir, seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (5/12/2015), bendungan gerak dibangun senilai Rp 351 miliar. Arus deras Sungai Bengawan Solo diatur sehingga bila banjir datang tidak akan massive.

Manfaat lainnya adalah sistem irigasi bagi sawah di sekitarnya. Air cukup, hasil dan panen pun meningkat.

Soal menghadapi bencana banjir, tercermin dari Taman Ebaga atau Taman Evakuasi Bahagia. Tempat ini mampu menampung ribuan pengungsi, fasilitas seperti MCK, dapur umum, dan stok logistik tersedia. Para pengungsi pun bisa bercocok tanam hingga berternak.

Petani pun terkadang harus berpikir memilih jenis tanaman ketika banjir melanda. Kini, belimbing terbukti dapat dibudidayakan dan menjadi wisata agro belimbing.

Selain lumbung pangan, tanah ekstrem Bojonegoro sebenarnya mengandung kekayaan minyak dan gas bumi yang melimpah. Diperkirakan cadangan minyak bumi di Bojonegoro mencapai 1.200 juta barel, sementara gas bumi cadangannya mencapai 6 miliar kaki kubik.

Untuk minyak, jumlah ini setara dengan 20 % cadangan minyak Indonesia.

Blok Cepu salah satu yang ternama, namun ironis warga Bojonegoro tidak serta merta merasakan nikmatnya.

Kang Nyoto pun mengeluarkan Perda Nomor 23 Tahun 2011 yang memuat persyaratan
pemberdayaan kandungan lokal dalam eksplorasi eksploitasi serta pengolahan minyak dan
gas bumi di Bojonegoro. Hasilnya, angka kemiskinan menurun. Derajat [warga](2382568 pun””) terangkat.

“Pendapatan itu menjadi milik negara, di tangan politisi, di tangan pengusaha, sekarang harus ditransformasikan dinikmati untuk seluruh rakyat,” kata Bupati Bojonegoro Suyoto.

“Bagaimana ini menjadi alat untuk membantu rakyat, yang tadinya SDM rendah menjadi naik, kemudian rakyat sehat, cerdas, dan produktif,” imbuhnya.

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...