Kang Yoto Plan, Upaya Lawan Kutukan dari Berkah Lumbung Migas

berkah migas bojonegoro

Saat jeda acara ketoprak, Faisal Basri dengan langkah bergegas naik ke panggung. Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas atau Tim Antimafia Migas itu didaulat oleh Bupati Bojonegoro Suyoto (Kang Yoto) untuk memberikan ”wejangan” terkait dengan harapan dan kewaspadaan Bojonegoro sebagai daerah lumbung migas.

”Eksplorasi dan eksploitasi itu baru tahap awal,” kata Faisal dalam acara di Pendapa Kabupaten Bojonegoro pada 27 Maret lalu. Ekonom tersebut menyatakan, keberhasilan suatu daerah dalam mengelola uang hasil migas ditentukan setelah selesainya eksplorasi dan ekploitasi. Yakni, ada titik-titik pertumbuhan ekonomi baru yang tidak bergantung kepada migas.

Selain itu, Faisal menyebut contoh Brunei dan Timor Leste. Dua negeri yang punya kekayaan migas itu berjaga-jaga dalam bentuk dana abadi.

Acara ketoprak yang diperani para pejabat, termasuk Kang Yoto sebagai raja, itu digelar untuk launching buku Menuju Transformasi Bojonegoro. Inti buku ”Kang Yoto Plan” ini adalah berkah migas harus dibelanjakan dengan bijaksana, akuntabel, demi membangun manusia Bojonegoro sekarang dan di masa mendatang secara berkelanjutan. Siapa pun yang memimpin Bojonegoro diharapkan terikat dengan komitmen mengutamakan rakyat.

Siang sebelumnya, ada acara rutin ”Dialog Jumat” dan dilanjutkan acara makan-makan. Kang Yoto mengulek sambel sendiri sembari berpromosi bahwa semua yang tersedia di meja makan adalah hasil pertanian Bojonegoro. Termasuk beras hitam yang sedang dipromo menjadi unggulan.

Klop dengan saran Faisal, Kang Yoto memang sudah menyisihkan anggaran untuk dana abadi dari hasil migas yang mulai mengucur pada 2006. Pembentukan dana abadi juga menjadi jalan keluar bila tiba-tiba pendapatan migas naik tajam. Dana yang dikumpulkan dari kelebihan itu bisa digunakan untuk membiayai pembangunan kelak bila migas mengering.

Bupati yang mantan dosen Universitas Muhammadiyah Malang itu menyatakan, selama ini dirinya memilih sangat hati-hati, hanya memasang maksimal 70 persen dari alokasi dana bagi hasil yang ditetapkan pemerintah pusat. Bahkan, pada 2015, dalam APBD murni dipasang 50 persen. ”Bila realisasinya tidak 100 persen, tidak ada risiko gagal bayar. Jika tercapai 100 persen, terjadi percepatan penambahan dana abadi,” kata bupati yang banyak diundang berbicara di dalam dan luar negeri itu.

Kang Yoto mengatakan, idealnya Bojonegoro memiliki USD 2 miliar (Rp 25 triliun). Dengan asumsi konservatif pendapatan bunga 6 persen saja, dia menghitung Bojonegoro akan memperoleh tidak kurang Rp 1 triliun. Bila tujuh tahun dari sekarang ekonomi Bojonegoro tumbuh pesat, PADnya bisa mencapai Rp 1 triliun, ditambah pendapatan yang lain Rp 1 triliun. ”Rasanya kekuatan APBD Bojonegoro masih cukup lumayan, di atas Rp 3 triliun,” beber pejabat alumnus IAIN Malang itu.

Ancaman ”sindrom pesta” akibat nafsu konsumtif di masyarakat dan pemda memang membuncah. Setelah migas muncrat, memang arus modal mengalir masuk tidak hanya dari dalam negeri, namun juga asing. Peluang tersebut akan mendorong peningkatan yang tajam terhadap pendapatan masyarakat. Makin mudah mencari uang. Sedangkan bagi pemda, pendapatan asli daerah (PAD) meroket tajam.

”Ibarat gula yang ditabur di meja, sekejap kemudian akan banyak semut datang untuk ”berpesta”, berebut lezatnya rasa manis dari gula tersebut. Namun, ketika gula sudah habis, selesailah pesta dan kemudian pergilah semua semut tersebut,” ungkap Kang Yoto yang akan mengakhiri masa jabatan keduanya pada 2018.

Selain dana abadi, Bojonegoro menjadi ”banker”. Sejak 2012, Pemkab Bojonegoro memosisikan diri sebagai pemilik saham terbesar keempat, Rp 75 miliar, di Bank Jatim. Setor modal ke bank UMKM Jatim Rp 25 miliar. Untuk BPR Bojonegoro, Rp 400 miliar. Itu angka pada 2014.

Itulah bagian dari mengerem ”sindrom pesta” akibat limpahan uang hasil migas. Itu bagian dari langkah praktis Kang Yoto untuk mengupayakan pembangunan berkelanjutan dan transformatif untuk Bojonegoro, sebagaimana diperinci dalam buku yang diluncurkan tersebut.

Berkah migas Bojonegoro memang bisa melenakan. Bojonegoro saat ini memiliki cadangan migas yang mampu menyuplai 20 persen kebutuhan nasional. Meskipun disebut blok Cepu (Blora, Jawa Tengah), sebenarnya pusat migas itu berada di bawah wilayah Bojonegoro (Jatim). Jangka waktu eksploitasinya 30 tahun serta estimasi potensi pendapatan daerah per tahun Rp 3 triliun. Padahal, penduduknya ”hanya” 1,5 juta jiwa.

Telah banyak daerah di Indonesia dan luar negeri yang merana begitu kekayaan alamnya dieksploitasi habis. Beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera telah mengalami ancaman kondisi ”habis-manis-semut-pergi-tinggal-kubangan” itu. Bahkan, ada istilah ekonomi untuk kutukan sumber daya alam itu, yakni dutch disease. Wilayah yang kaya sumber daya alam justru ”teler” secara ekonomi.

Untuk menghindari mabuk migas itu, Bojonegoro harus sanggup berhemat, menunda kenikmatan, popularitas, dan gemerlap. ”Dengan demikian, begitu migas habis, Bojonegoro masih tetap memiliki daya tarik,” tekad Kang Yoto. (rhido@jpip.or.id/www.jpip.or.id)

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...