Kang Yoto, Resonansi Kepemimpinan Transformatif

Judul : Resonansi Transformatif Kepemimpinan Kang Yoto  
No. ISBN : 9786027829329
Penulis : Cahyo Suryanto
Penerbit : Expose
Tanggal terbit : Mei – 2016
Jumlah Halaman : 256
Berat Buku : 500 gr
Jenis Cover : Soft Cover

Buku ini merangkum pendapat dari orang-orang yang mengenal Kang Yoto sebagai pribadi dan sebagai Bupati Bojonegoro. Mulai dari keluarga, rekan kerja, tokoh nasional, hingga masyarakat yang dipimpinnya. Keseluruhan hasil wawancara dari para narasumber ini menegaskan bahwa Kang Yoto adalah model pemimpin transformatif yang telah menunjukkan bagaimana mengubah tata kelola pemerintah dari selfish menuju services, dari yang rigid-kaku ke gesit-pembelajar, serta dari masyarakat politik yang berorientasi kelompok dan jangka pendek menjadi berorientasi publik dan bervisi panjang.

Keunggulan buku:
–    Kang Yoto merupakan tokoh yang tengah naik daun, saat ini dijagokan untuk menjadi salah satu bakal calon Gubernur DKI Jakarta.
–    Menjadi pembelajaran bagi pemerintahan daerah mengenai transformasi pengelolaan daerahnya.
–    Tokoh yang diidolai publik. Menggambarkan kecintaan rakyat kpd pemimpinnya

Era desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia telah menciptakan ruang yang luas bagi lahirnya para pemimpin di berbagai level. Ternyata, walaupun sama-sama produk otonomi daerah yang ditandai dengan pilihan langsung, tetap ada saja pemimpin yang  selfish, birokratis, pragmatis, anti dialog,  top down, bahkan dengan sangat lugas mendemonstrasikan gaya pemimpin yang oligarkis-otoritarian. Walaupun pemimpin ini merupakan produk demokrasi, namun sebenarnya dia tetap saja pada posisi status quo. Dia tidak melakukan transformasi dan melahirkan legasi yang bermakna bagi yang dipimpinnya. Seandainya pun ada, biasanya lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat artifisial, fisikal, teknikal, legalistik, prosedural dan formalis-mekanistik. Alhasil, jejak “monumental” itu pun dengan mudah ditiadakan oleh pemimpin berikutnya, sebagaimana adagium yang mengatakan “Ganti Pimpinan, Ganti Kebijakan, Ganti Peraturan”.

Tidak bisa dinafikan bahwa pemimpin harus mewujud-nyatakan janji kampanye itu dalam bentuk yang artifisial, fisikal, teknikal dan legal-formal. Namun, ketika aneka keluaran itu tanpa dilandasi spirit dan nilai-nilai yang subtantif, maka dapat diibaratkan “membangun raga tanpa jiwa”. Mewabahnya model pemimpin di era otonomi yang hanya “berorientasi fisik dan teknis. tanpa membangun jiwa” ini bisa jadi akan semakin menjauhkan bangsa ini dari “spirit Indonesia Raya” yang berbunyi: ”Suburlah Tanahnya Suburlah jiwanya, Bangsanya Rakyatnya semuanya, Sadarlah hatinya Sadarlah budinya…Untuk Indonesia Raya”.

Berangkat dari fenomena tersebut, kami tergerak untuk menelusuri, menggali dan menemukan model kepemimpinan yang “berbeda”. Yakni, pemimpin yang mempunyai “niat” untuk menyelenggarakan pembangunan yang berfokus pada manusia. Jiwanya, kesadarannya, partisipasinya dan terlebih lagi adalah martabatnya. Pemimpin yang tidak hanya menggelembungkan “citranya” melalui polesan dan kemasan media. Pemimpin yang tidak memberhalakan ‘monumen-monumen’ pembangunan fisik. Pemimpin yang tidak tersandera oleh patronase-dinasti politik. Pemimpin yang tidak  narsis dengan aneka  award yang kadang sangat dangkal dan artifisial. Pemimpin yang tidak mabuk pada kemenangan dan gagal memaknai kemenangannya. Pemimpin yang tidak “berhenti di kekinian”, namun terus bergerak, berubah dan membuahkan karya-karya agung (masterpiece) untuk masa depan yang lebih baik. Dan, pemimpin yang tidak “jaim” (jaga image) karena posesivitasnya terhadap atribut, derajat, pangkat, tahta dan otoritasnya.

Dalam perguliran waktu, ternyata energi dan semangat penelusuran, penggalian dan penemuan pemimpin yang “berbeda” itu sempat padam. Apalagi melihat kenyataan semakin mewabahnya pemimpin yang telah mati rasa dengan peran, tanggung jawab dan amanahnya. Pemimpin yang sangat menggemari “tepuk tangan” dan bangga memuja capaian diri, tanpa mewariskan perubahan yang berarti.

Untuk menyemangati, atau lebih tepatnya ‘menghibur diri’, kami tetap menjalankan laku sebagai fasilitator pemberdayaan komunitas di level akar rumput. Laku itu berupa inisiasi dan kerjasama dalam gerakan peduli sampah, pemanfaatan pekarangan menjadi sumber pangan, bank sampah, daur ulang, kewirausahaan sosial berbasis sumberdaya lokal dan sebagainya di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Bojonegoro sejak tahun 2010.

Pada hari Jumat sekitar bulan September 2013, ketika kami hadir di sebuah desa di Bojonegoro dalam rangka pertemuan komunitas, ada beberapa warga yang membatalkan keikut-sertaannya dengan alasan mau mendengarkan dan mengikuti  “dialog publik dari pendopo Bojonegoro”. Kami bertanya: “Apakah yang sampeyan cari dari mengikuti dialog itu?” Salah satunya menjawab: ”Kita kan harus mengikuti apa yang sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah untuk petani”. Yang lain menimpali: “Saya pingin ketemu dengan Kang Yoto”. Selanjutnya kami bertanya, “Siapa Kang Yoto itu?”. Mereka menjawab: ”bupati Bojonegoro…”. Sejujurnya kami cukup tercengang dengan dialog singkat itu. Dan sejujurnya, kami tidak percaya jika ada bupati yang mau menjumpai ‘petani gurem’.  Jika pada masa kampanye hal itu sangat lumrah terjadi. Tetapi, jika sudah menjadi bupati biasanya mereka pasti akan dilupakan dan diabaikan.

Kejadian tadi sesungguhnya merupakan  blessing in disguise. Saat semangat pencarian dan harapan kami meredup, tiba-tiba melesat secercah cahaya yang menghampiri kami. Dan, semangat untuk mencari “pemimpin yang berbeda” itu bangkit lagi. Langkah cepat kami adalah membentuk ‘tim investigasi’, menyusun daftar pertanyaan dan menyusun kerangka kerja untuk mengumpulkan data dan informasi tentang “Siapa dan bagaimana Kang Yoto”. Sejak saat itulah, sembari memfasilitasi proses pemberdayaan, kami menyusuri dan menyisiri lokasi-lokasi permukiman di wilayah Bojonegoro untuk mewawancarai berbagai orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan seperti pewarung, guru, PNS, juru kunci makam, wartawan, anggota dewan, tokoh agama, pengusaha, aktivis perempuan, pelaku seni budaya, aktivis gerakan kaum muda, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Proses penggalian data dan informasi itu berlangsung sekitar tujuh bulan.

Dari pengumpulan data awal itu hasilnya sangat menarik. Ada berbagai kesan dan opini seputar “kehadiran” Kang Yoto dalam kehidupan mereka. Tak semuanya bagus tentu saja. Dalam proses “konfirmasi” ini, kami menemukan benang merah yang menjadi pijakan “platform kehadiran” Kang Yoto dalam memimpin masyarakat warga Kabupaten Bojonegoro, yaitu:  pelayanan. Berdasarkan data awal itulah tim penulis memutuskan untuk melakukan konfirmasi kepada Kang Yoto.

Perjumpaan pertama kami dengan sosok Kang Yoto berlangsung di ruang makan rumah dinas bupati di seberang alun-alun Bojonegoro pada suatu siang di awal bulan Maret 2015. “Ayo silakan makan seadanya. Ini sambalnya dicicipi. Saya sendiri yang nguleg…”, kata Kang Yoto saat menyambut dan mengajak kami untuk menjadi ‘partisipan’ dalam acara makan siang bareng-bareng. Acara makan siang ini secara rutin digelar, biasanya setelah sholat Jumat menjelang acara “Dialog Publik”. Siapa saja bisa datang dan menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Menunya macam-macam masakan lokal murah meriah yang kebanyakan berbahan baku sayur-sayuran, tahu, tempe, telur, ikan air tawar, dan ikan asin. Menu kerakyatan ini seakan mengungkapkan “cita rasa demokratis” dalam wajah kuliner yang kontekstual.

Setelah santap siang, tibalah waktunya bagi kami untuk mengkonfirmasi beberapa temuan dengan tanpa menjelaskan bahwa kami sebenarnya sudah melakukan investigasi pada beberapa pihak. Pertanyaan pertama kami pada Kang Yoto: “Benarkah pelayanan yang selama ini dilakukan memang sungguh-sungguh dilandasi oleh kesadaran? Dan beliau mengatakan: Itu bukan sebatas dalam kesadaran, tapi memang begitulah hakekat memimpin. Memimpin itu intinya melayani. “Ibarat sopir bis umum saya melayani semua penumpang yang naik untuk menuju tempat yang dituju”. Sopir bis umum yang baik, adalah sopir yang memahami rute dan rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalan.

Dari jawaban dan konfirmasi atas temuan sementara yang kami peroleh, sampailah pada “kesimpulan awal” bahwa apa yang dilakukan oleh Kang Yoto bukanlah sekedar ‘jargon’, atau lebih generiknya: bukan sekedar ‘deklarasi verbal’. Suatu gambaran aktual, misalnya dalam beberapa tahun terakhir ini Bojonegoro dikenal sebagai wilayah yang makin makmur dengan keberadaan ekplorasi dan eksploitasi minyak. Asumsi stereotipikal kalangan umum rata-rata beranggapan bahwa begitu ada tambang minyak/gas yang beroperasi di suatu wilayah, maka otomatis wilayah tersebut terdongkrak kemakmurannya dan itu artinya semakin memiliki keleluasaan untuk segera mengkonsumsikan pendapatannya

Apakah hal itu terjadi di Bojonegoro dibawah kepemimpinan Kang Yoto? Ternyata tidak. Ketika industri migas beroperasi di wilayah Bojonegoro, selaku pemimpin Kang Yoto sudah mengantisipasinya dengan langkah-langkah strategis yang langsung diimplementasikan melalui skenario masa depan Bojonegoro yang digambarkan secara metaforis seperti orang berjalan, yaitu: (1)Belok kiri, Masa depan yang nestapa, (2) Belok kanan, Senang sesaat dan kemudian nestapa berkelanjutan, dan (3) Lurus tajam mendaki, Menunda kenikmatan, berat sesaat dan kemudian maju berkelanjutan. Skenario yang dipilih adalah skenario ke-3 jalan lurus ke depan (skenario ke-3) yang kuncinya adalah 5 hal: (1) Cegah kebocoran, transparansi pengelolaan dan belanja yang berasal dari DBH Migas, (2) Gunakan anggaran secara efektif untuk pembangunan berkelanjutan, (3) Fokus pada manusia saat eksplorasi dan eksploitasi,(4) Transparan dan partisipatoris dalam pembuatan kebijakan dan belanja daerah, dan. (5) Optimalisasi potensi lokal yang berbasis SDA non migas yaitu pertanian. Strategi yang dibuat oleh Kang Yoto terkait dengan masa depan Bojonegoro ini merupakan tindakan manajemen yang integral, yakni mengintegrasikan antara hal yang  intangible, yakni esensi “hadir” dan hal yang  tangible; yaitu strategi langkah-langkah yang sifatnya terukur.

Perjumpaan dengan Kang Yoto memberikan banyak ilham dan pencerahan bagi kami. Ilham dan pencerahan itu terasa deras mengalir dalam setiap pemikiran, sikap dan perilaku beliau saat berdiskusi dan sharing dengan tim penulis. Namun, agar kami tidak larut dan kehilangan kejernihan dalam menilik-memilah dan memilih setiap data, informasi dan kearifan (wisdom) atas jejak-jejak kepemimpinan Kang Yoto, maka kami juga menggali pendapat dari para pihak yang relatif berjarak; namun dari jauh bisa mengamati kepemimpinan Kang Yoto. Mereka adalah Buya Syafii Maarif, Mbak Nita, Pak Munir, Mas Putut, Pak Massa, Pak Pramu, dan sebagainya. Selain itu, kami juga secara khusus mewancarai isteri dan anak Kang Yoto. Wawancara ini dimaksudkan untuk menemukan bagaimana esensi, spirit dan nilai-nilai kebajikan (virtue) kepemimpinan itu tumbuh, berkembang dan dipraktikkan secara konsisten dalam hidup keluarganya. Selain itu, juga untuk mengonfirmasi kebenaran dari adagium yang menyatakan bahwa “apa yang besar selalu berawal dari yang kecil”, termasuk di dalamnya adalah kepemimpinan.

Setelah melakukan wawancara dengan para pihak tersebut, baru akhirnya kami melakukan wawancara mendalam dengan Kang Yoto. Tujuan dari wawancara ini adalah:  pertama, untuk melihat kesesuaian antara yang  diniatkan oleh Kang Yoto dengan apa yang  dirasakan, dipahami  dan  ditangkap oleh pihak lain;  Kedua, untuk mengkonfirmasi antara apa yang diberikan oleh Kang Yoto dengan apa yang diterima oleh pihak lain: Ketiga, untuk menemukan konsistensi antara spirit dan nilai yang ditanamkan oleh pemimpin, dengan efek perubahan dalam etos, budaya, spirit dan perilaku dari pihak yang dipimpin. Ketiga tujuan tersebut merupakan cara kami untuk mengelaborasi apa yang dalam buku ini di definisikan sebagai resonasi kepemimpinan, inilah yang kami namakan RESONANSI KEPEMIMPINAN.

Bagi kami, seluruh proses wawancara, dialog dan perjumpaan dengan para narasumber telah menuntun-membimbing untuk menegaskan bahwa: Kang Yoto adalah model pemimpin transformatif yang telah memandu dan menunjukkan tentang bagaimana mengubah tata kelola pemerintahan dari selfish menuju services, dari yang rigid-kaku ke gesit -pembelajar, serta dari masyarakat politik yang berorientasi kelompok dan jangka pendek, menjadi berorientasi publik dan bervisi jangka panjang.

Kami menyadari, hal-hal yang tertuangkan dalam buku ini masih jauh dari sempurna. Untuk itulah, pada kesempatan ini kami mempersilakan para pembaca untuk menilai apakah sebenarnya resonansi itu nyambung dengan yang diniatkan dan dipikirkan sendiri oleh Kang Yoto.

Harapan kami, buku ini dapat menjadi cermin bagi siapa pun yang juga  concern untuk terlibat dalam menciptakan transformasi. Di negeri ini, sesungguhnya yang diperlukan adalah transformasi. Negeri ini memerlukan transformasi untuk mengejar ketertinggalan demi meraih masa depan yang lebih baik. Kata kuncinya adalah transformasi, bukan reformasi.

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...