Langkah-Langkah Transformer

proyek migas bojonegoroBerbeda dengan daerah lain yang membatasi perbelanjaan modern, Bupati Bojonegoro Suyoto justru melihat itu sebagai peluang membuat titik-titik pertumbuhan baru. Sebab, sebelum dieksplorasi migas, Bojonegoro dianggap wilayah yang tidak menarik secara investasi. Keluarnya migas menghasilkan momentum hadirnya pelaku bisnis. Sang bupati memberi investor-investor itu banyak kemudahan, termasuk diskon biaya perizinan.

”Pembangunan tersebut tanpa meninggalkan pelaku usaha mikro. Ini terlihat dari semakin banyaknya tumbuh pelaku usaha mikro di titik-titik strategis di Kota Bojonegoro,” kata Kang Yoto, panggilan karibnya.

Dia menilai, performa perbelanjaan modern bisa menjadi contoh bagi pelaku usaha mikro agar semakin maju dan ramah pasar. Dalam bayangannya, kelak ketika migas habis, sektor usaha modern dan mikro itulah yang menjadi andalan Bojonegoro.

Masyarakat Bojonegoro juga diprioritaskan seiring mekarnya bisnis migas tersebut. Pemkab Bojonegoro telah menerbitkan Perda 23/2013 tentang Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah dalam Pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi serta Pengolahan Minyak dan Gas Bumi (terkenal dengan Perda Konten Lokal).

Meski ditentang, bahkan diprotes pemerintah pusat karena dianggap ”egois”, Kang Yoto jalan terus dengan perda itu. ”Mosok mau ambil unskilled labor saja dari luar daerah? Justru dengan mempekerjakan orang sekitar untuk pekerjaan yang tak memerlukan keterampilan teknis khusus, kita ikut menjaga keharmonisan proyek migas dengan masyarakat,” kata Kang Yoto.

Kang Yoto juga membangun kapasitas SDM dengan perbaikan dan penambahan infrastruktur pendidikan secara bertahap. Setiap tahun 12.000 orang dikirim untuk mengikuti pelatihan tenaga kerja kejuruan. ”Semua itu kami lakukan agar terwujud modal budaya dan modal sosial bagi seluruh rakyat Bojonegoro. Saya memahami betul karena latar belakang saya sebagai dosen yang pernah menjabat sebagai rektor di Universitas Muhammadiyah Gresik,” tegasnya.

Kang Yoto menekankan terciptanya kepemimpinan yang transformatif. Untuk menjalankan pembangunan ekonomi, pengembangan SDM, kebijakan fiskal yang berkelanjutan, dan lingkungan hidup, diperlukan ke pemimpinan yang kuat, cerdas, sehat, bersih, dan proaktif terhadap segala dinamika masyarakat. Dia juga harus menjadi pemimpin transformatif (transformer) yang mampu menggerakkan dan mengelola perubahan secara terus-menerus.

”Bojonegoro yang kaya raya ini tidak dapat dikelola dengan kepemimpinan yang semata-mata berorientasi pada status quo, kemapanan, dan harmoni,” kata penerima Otonomi Award bidang Pertumbuhan Ekonomi 2014 JPIP karena mengubah lahan banjir jadi lahan buah itu. Para pemimpin transformatif, di mata Kang Yoto, harus berinovasi tanpa kenal mati ide.

Untuk itu, Kang Yoto mengajak partai politik, ormas, dan organisasi masyarakat sipil ikut mengambil tanggung jawab. Sebab, di situlah praktik kepemimpinan dijalankan, namun dari situlah jugalah sumber kepemimpinan dilahirkan. Pemerintah bertugas memfasilitasi segenap proses komunikasi transformatif antarelemen rakyat. ”Para pemimpin politik, terutama yang mendapatkan mandat dari rakyat untuk memimpin Bojonegoro, harus menjadi bagian garda depan kepemimpinan transformatif ini,” kata Kang Yoto. (www.jpip.or.id)

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...