Mari Kita Jaga Transformasi Mental dan Revolusi Mental

Setiap desa atau pemdes segera mengumumkan apa yang dibutuhkan setiap banjir, dan menyatakan status kemampuannya apakah masih sanggup bertahan hidup atau tidak. Sepanjang masih bisa bertahan hidup berarti tidak perlu bantuan. Kebutuhan konsumsi selama banjir dipenuhi oleh dapur komunitas. Bila pemdes dan masyarakat tidak mampu maka baru ajukan ke pemkab.

Bila pemkab tidak lagi mampu maka akan mengumumkan kepada publik dan ajukan ke Propinsi serta pemerintah Pusat. Publik boleh membantu sesuai kebutuhan real di masyarakat terdampak.  Para pemrakarsa pemberi bantuan dilarang menggalang bantuan di jalan raya. Situasi belum gawat darurat. Ingat banjir tidak otomatis menyebabkan datangnya bantuan.

Revolusi mental harus tetap berjalan, banjir jangan mendorong lahir atau suburnya atau memelihara mental peminta. Untuk itu saya minta camat, pemdes dan ormas atau Relawan peduli bencana memastikan situasi warga terdampak banjir, saling berkordinasi data, kemampuan dan aksi yang dilakukan.

Kita memilih hidup di Bojonegoro berarti kita sudah siap menghadapi semua kemungkinan. Banjir masih menjadi kemungkinan yang selalu ada, karena posisi Bojonegoro yang berada di hilir aliran bengawan solo. Mari menjadi orang tangguh, jangan cengeng, apalagi kerdil dan menjadi peminta. Menjadi pahlawan dengan kemampuan menolong diri sendiri, kuatkan basis komunitas. Mari belajar dari pengalaman dan sejarah masa lalu. Seperti Nabi Yusuf mengelola kekeringan setelah datangnya kemakmuran.

Kepada semua pihak mari saling belajar bersama dan berkordinasi. Jangan eksploitasi banjir menjadi ajang politik, solidaritas publik yang dapat merusak mental warga terdampak. Lakukan partipasi dengan cara bijak dan tepat.

Salam tangguh!
Salam, kang yoto

Baca Juga Dari Kang Yoto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.