Membuat Orang Miskin Produktif

100 tahun lalu bila ada daerah yang rakyatnya paling miskin, menurut C Pander, daerah itu bernama Bojonegoro. Dari Sembilan tahun saya menggauli kemiskinan di Bojonegoro. Sedari awal menemukan: orang miskin karena tidak punya pendapatan. Mengaku tani tapi tidak punya sawah atau ladang. Punya ladang sedikit tapi tidak produktif. Tidak punya ladang tapi juga tidak punya ketrampilan untuk mandiri. Banyak juga orang mampu jatuh miskin atau orang miskin yang punya pendapatan tapi tidak bisa keluar dari kemiskinan lantaran terjebak hutang, budaya hutang Budi dan pengeluaran karena pesta pernikahan, sunatan atau ritus kematian dan pengeluaran biaya pengobatan dan pendidikan.

Mengingat jumlah terbesar penduduk Bojonegoro petani, maka ada tiga skenario pemberdayaan yang kelak diharapkan membuat si miskin punya pendapatan. Yaitu: optimalisasi lahan pekarangan atau ladang dengan tanaman produktif baik untuk konsumsi sendiri atau dijual kelebihannya. Pemberian ketrampilan untuk usaha mandiri atau bekerja pada pihak lain. Tentu saja dua belanja dasar orang miskin, orang yang tidak mampu: pendidikan 12 tahun dan layanan kesehatan harus ditanggung Pemerintah.

Pembangunan 1000 embung, perbaikan irigasi, pembagian berbagai bibit, termasuk jambu merah dan kristal, hanyalah sebagian kecil implementasi strategi tersebut. Begitu juga dengan pemberian beasiswa 2 juta untuk semua anak yang sekolah SLTA dan pelatihan ketrampilan bagi lebih 10. 000 penduduk.

Bagaimana dengan paket insentif investasi di kawasan pedesaan miskin yang lahannya kurang produktif ?(cek di Google dan baca linknya). Paket ini dimaksudkan untuk pengentasan kemiskinan lewat strategi kolaborasi, dimana pemdes, masyarakat dan pengusaha berkolaborasi menciptakan kegiatan ekonomi produktif di kawasan tersebut. Alih alih pergi jauh yang ongkosnya mahal, kadang juga mengganggu pendidikan dan keharmonisan keluarga, maka pabriknya yang diundang. Pabrik sepatu di kanor dan rencananya juga di Trojalu Boureno, pabrik plastik Boureno, Garmen di Kalitidu, dan pengolahan sarang burung berbagai pelosok Bojonegoro hanyalah diantara contoh pendekatan kolaborasi ini.

Bukankah Kemiskinan akan dengan sendirinya hilang bila si miskin memperoleh pendapatan dari usaha mandiri, bekerja pada orang lain atau perusahaan. Bukankah dengan cara ini orang miskin tetap menjadi orang terhormat, hidup dengan berkarya bukan dari belas kasihan. Ayo menjadi bagian dari gerakan kolaborasi ini, memberdayakan si miskin, sekaligus menciptakan produk yang berdaya saing.

 

#BojonegoroMatoh
#JatimProduktif

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...