Musrenbang Kabupaten Bojonegoro 2017

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kabupaten Bojonegoro Tahun 2017 dalam rangka penyusunan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) Kabupaten Bojonegoro mengambil tema peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui penguatan layanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur berkelanjutan untuk mewujudkan wong Jonegoro yang lebih sehat, cerdas, produktif dan bahagia.

Acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini untuk merancang program kerja serta capaian yang ingin di capai tahun ini dan tahun depan. Acara dihadiri oleh Bupati, wakil bupati Bojonegoro, ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, serta BAPPEDA provinsi jawa timur.

Kepala Bappeda Ir. I Nyoman Sudana, MM menyampaikan bahwa kita dalam melakukan MUSRENBANG atau melakukan pembangunan di Bojonegoro harus bisa menyamakan persepsi pembangunan, harus saling koordinasi antar lembaga, partisipasi aktif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan, komunikasi dan juga sinergitas antar lembaga. Ada tiga pendekatan pembangunan yaitu pertama holistik tematik yaitu menitikberatkan pada keseluruhan sebagai satu kesatuan dan saling keterkaitan satu sama lain untuk memecahkan satu pokok permasalahan tema. Kedua Spasial yaitu pendekatan pembangunan berdasarkan daya dukung ruang. Ketiga Integratif yaitu mengkaitkan antar program untuk mendukung tujuan pembangunan.

Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro Mitroatin, S.Pd menyampaikan apresiasi kepada bupati dan wakil bupati Bojonegoro serta jajarannya karena telah mengurangi kemiskinan dan pengangguran. “Mari kita satukan niat, tekat untuk menciptakan masyarakat bojonegoro lebih sehat, cerdas, produktif, dan bahagia.” pesan beliau.

Lebih lanjut, Mitroatin menyampaikan, sesuai dengan tugas dan fungsi para SKPD harus melaksanakan skala prioritas pembangunan. Maka dari itu penyusunan dokumen rencana pembangunan tersebut dilakukan melalui proses partisipasi seluruh pelaku pembangun dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) dan DPRD menjadi bagian tersebut. Pokok-pokok pikiran DPRD merupakan hasil penyerapan aspirasi melalui reses dan rapat dengar pendapat dengan masyarakat dan/atau pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam MUSRENBANG tingkat desa dan kecamatan. Sehingga pokok-pokok pikiran DPRD tersebut merupakan dokumen yang sangat penting karena bentuk keterwakilan dari masyarakat. Pokok-pokok pikiran DPRD memuat pandangan dan arah prioritas pembangunan serta rumusan usulan kebutuhan program/kegiatan.

Staf Ahli Gubernur Jawa Timur bidang Ekonomi dan Keuangan Setiajit SH, MM. Menyampaikan MUSRENBANG sangat penting karena menyangkut masalah pembangun. Tidak sekedar pertemuan formal saja, tapi juga sebagai acuan kerja dan target pembangunan kedepan. Maka dari itu dalam pertemuan hari ini diharapkan bisa bersungguh-sungguh dalam membahas pembangunan di Bojonegoro. Sudah banyak capaian yang diperoleh kabupaten Bojonegoro antara lain adalah jumlah distribusi HIV, Kusta, TB yang cukup rendah. Namun jumlah klematian ibu dan kematian bayi yang cukup tinggi.

Kang Yoto dalam sambutannya menyampaikan “hidup di Bojonegoro merupakan hidup dlumbung kemiskinan, bagaimana tidak orang Bojonegoro sejak lahir sudah miskin. Menurut data BPS, di Bojonegoro tidak banyak masyarakat yang memiliki lahan sawah lebih dari 0,5 Ha selain itu tanah di Bojonegoro kalau musim hujan pasti banjir, kalau kemarau pasti kering dan tanahnya retak. Syarat jadi orang miskin sudah ada di Bojonegoro. Dalam bukunya Daron Acemoglu dan James A Robinson “Why Nations Fail” dijelaskan bahwa tidak ada negara yang gagal tetapi negara yang salah urus. Suatu negara atau daerah dapat menjadi maju atau mundur tergantung pemimpinnya.

Bagaimana pemimpinnya menggunakan kekuasaan, bagaimana kekayaan yang ada digunakan. Kalau pemimpinnya bisa menggunakan itu dengan baik pasti negara tersebut bisa maju”.

“Era kita sudah berubah dari era lama yang otoriter, KKN menjadi era yang baru yang berdemokrasi. Pola hubungan yang dulu kolusi karena kedekatan dengan atasan menjadi pola hubungan yang partnership.

Budaya yang consumtive berubah menjadi budaya produktif. Orientasi kita yang dahulu untuk berebut warisan harus berubah menjadi menciptakan warisan. Hubungan sosial politik yang dahulu tidak saling percaya menjadi saling percaya. Pola kepemimpinan yang dahulu Cuma hanya bisa memerintah diubah menjadi melatih. Orientasi yang dahulu hanya memikirkan diri sendiri (self service) menjadi service atau melayani masyarakat. Ada masalah mendesak untuk wujudkan wong jonegoro yang sehat, cerdas, produktif berdaya beli dan bahagia antara lain IPM, Kemiskinan, Penguatan fungsi organisasi desa, kebencanaan, infrastruktur dasar. Masalah ini yang menjadi prioritas kita saat ini harus diutamakan”.

“Kunci agar dapat gunakan kekuasaan yang efektif adalah jaga niat dan gairah untuk memikirkan masalah yang dihadapi masyarakat. Perkuat produk berdaya saing agar bisa menyerap tenaga kerja lokal. Fokus pada solusi atas masalah yang ada. Bangun dengan prinsip berkelanjutkan. Mari kita semua bekerjasama untuk bisa mebangun Bojonegoro ini. Agar kita bisa menciptakan wong jonegoro yang lebih sehat, lebih cerdas, lebih produktif dan lebih bahagia, Imbuh Kang Yoto”.

Baca Juga Dari Kang Yoto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.