Proses Pendidikan Berbahan Ajar Masalah di Lingkungan Sekolah

Ajarkanlah ketrampilan berkehidupan!!!

“Siapa diantara kalian yang tidak bisa renang?”

Ternyata mayoritas anak putri menjawab tidak bisa. Mengejutkan sekali karena mereka adalah siswa-siswa SLTP di Trucuk. Bukankah Trucuk menjadi salah satu wilayah yang sudah sangat lama dan masih mendapatkan Taqdir banjir tahunan, dan sampai kinipun belum dapat diputuskan kapan banjir dapat dihentikan. Sejak anak anak dilarang mandi di sungai, tempat mandi berpindah dari kolam ke kamar mandi, anak-anak yang tadi secara alamiah belajar renang kini tidak lagi. Padahal ancaman banjirnya masih ada.

Saya yakin 80% anak anak ini kelak hidupnya tidak jauh dari Trucuk, maka selain harus terampil renang, anak-anak harus bisa bertani dan berkebun, beternak hewan maupun ikan, memasak yang sehat dan enak, bisa bertetangga dan berorganisasi, anak anak juga diharapkan kelak mampu mengolah bahan baku di sekitarnya menjadi produk yang laku dijual ke luar Trucuk. Bahkan anak-anak kelak diharapkan mampu dengan akal dan hatinya menciptakan karya kreatif yang tidak berbahan baku, seperti: seni , gagasan terobosan, design IT, dan lainnya.

Mengembalikan semangat pendidikan untuk hidup, sejatinya menyiapkan anak-anak siap menerima masalah dan menyelesaikannya secara mandiri, lalu mampu berkontribusi bagi pihak lain. Untuk inilah benar sekali bila seluruh proses pendidikan harus menghadirkan pula seluruh problem yang senyatanya hidup di sekitarnya. Dari proses terlibat menyelesaikan dan belajar hidup itulah maka ketrampilan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis (bukan berpikir sinis), kreatif/ inovatif dan ketrampilan spiritual seperti Ridho, sabar, syukur dan Mujahadah akan terasah dengan baik. Anak-anak selain akan tumbuh lahir batin mereka diharapkan memiliki kesadaran sosial, lokasi dan sejarah.

Anak-anaklah masa depan kehidupan ini, berikanlah yang terbaik dan paling tepat untuk hidupnya. Mari menjadi Manager proyek kehidupan ini.

Bapak ibu gurulah yang menjadi ujung tombak bagi hadirnya pendidikan yang menghidupkan ini. Saya yakin dengan lima ketrampilan dasar kehidupan tersebut anak-anak akan semakin semangat membaca, memburu pengetahuan dan menghadirkannya dalam dunia nyata.

Tranformasi atau kalau mau keren sebutlah revolusi pendidikan bisa dimulai dari manapun, terlebih di tempat yang paling banyak masalahnya. Dari Trucuk, Wonocolo kasiman, Mboti Tambakrejo, Kalikas Bobol Sekar, termasuk dari SDN Maor tengah hutan Clebung Bubulan, atau SDN Kenongo Rejo Gondang yang di pucuk gunung, SDN tawaran Tambak rejo yang di tengah hutan, bakhan bunten tondomulo kedungadem yang di pucuk gunung itu.

Jangan lagi menunggu, karena bapak ibulah sopir atau masinis kereta kehidupan ini.

*) refeleksi kunjungan sekolah di Trucuk dan Kalitidu, Kamis 9 Februari 2017

Baca Juga Dari Kang Yoto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.