Testimoni Tentang Kang Yoto

kang yoto menyapa

Buya Syafii Maarif, Guru Bangsa
“Yoto itu seorang petarung yang punya kearifan. Dia tidak kalah dengan Ahok, Ridwan Kamil atau Risma—hanya kurang terekspos saja oleh media. Bangsa ini rugi kalau orang seperti Yoto tidak diberi kesempatan yang lebih luas. Menurut saya sosok pemimpin harus mempunyai hati yang bersih”.

Ahok, Gubernur DKI Jakarta
“Saya yang dari Belitung saja bisa pimpin DKI, apalagi (Kang Yoto) dari Bojonegoro. Belitung Timur lebih kecil dari Bojonegoro”.

Prof. Otto Scharmer, Guru Besar Massachusetts Institute of Technology, Boston, USA. Pencetus teori Democracy 4.0.
“Pemimpin spiritual abad 21 adalah mereka yang melayani publik dengan niat meningkatkan kesejahteraan untuk semua. Kang Yoto adalah salah satu pemimpin seperti itu. Prestasinya di Bojonegoro sangat menginspirasi. Kang Yoto adalah seorang politisi, pendidik dan sekaligus pemimpin yang religius”.

Fransiskus Sarman, Katekis Gereja Katolik St. Paulus Bojonegoro
“Kok bisa ya. Beliau itu kan Muslim, tapi ketika memberi sambutan Natal kok lebih bagus ketimbang khutbah yang di Gereja. Beliau menekankan kasih, menekankan damai”.

KH. Alamul Huda Masyhur, Tokoh NU dan Pimpinan Ponpes Al-Rosyid, Bojonegoro
“Kang Yoto selalu bersedia hadir dalam kegiatan masyarakat, tidak memandang kaya atau miskin. Jiwa raganya hadir total bagi masyarakat”.

Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
“Orang Jawa menyebut Kang Yoto ini ”nggak punya udel” (tidak kenal lelah). Setiap hari ia bekerja hingga jam 1 atau jam 3 pagi, padahal pagi-pagi dia harus sudah menjalankan aktivitas yang padat. … Dalam satu kata, sebagai pemimpin Kang Yoto itu sosok yang melayani. Saya menangkap sifat melayani ini sebagai laku spiritualnya”.

Maria Roseline Ninditya Radyati, Ph. D., Direktur MM-CSR Universitas Trisakti
“Banyak pencapaiannya yang luar biasa, tapi dilakoni dengan rendah hati. Kita sangat perlu peimpin seperti itu. Wawasannya internasional, tapi sikap dan dan tindakannya dijiwai Pancasila”.

Mohammad Soleh, Penjual Pecel di Bojonegoro
”Pak Yoto itu orang langka, menonjol sekali kesederhanaannya. Pak Yoto sering nongkrong di warung-warung kecil, tidak membeda-bedakan orang dan kalau dikritik tidak pernah marah. Orangnya mudah dikontak, dan semua warga boleh menghubungi beliau lewat telepon”.

Suhadi Mulyono, Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro
“Saya ini sudah mengalami empat periode kepemimpinan bupati, yang kelima adalah Pak Yoto. Menurut saya, dalam memimpin Pak Yoto menempatkan diri benar-benar sebagai pelayan, sebagai abdi masyarakat dan rakyat. Kepada siapa pun yang dating, Pak Yoto selalu memberikan harapan ke depan bisa lebih baik”.

Fathur Rohman, Camat Dander, Kabupaten Bojonegoro
“Pak Yoto mencanangkan kinerja para camat dengan perbandingan 30 persen di kantor, 70 persen di lapangan. Memang beliau orang yang visioner. Saya merasakan sendiri Pak Yoto itu seorang motivator, suka bekerja tanpa pramih, ikhlas menjalani amanah, dan tidak mencari pujian dari siapapun”.

Mbah Saban, Seniman reog dan jaranan, Bojonegoro
”Seumur-umur yang baru dia, Bupati yang pernah ngrangkul saya. Saya sampai kaget, lha saya kan rakyat kecil. Dulu yang namanya salaman sama Bupati itu sulit. Sekarang jamannya terbalik, Kang Yoto yang mendatangi dan menyalami rakyat kecil”.

Mak Yah, Penjual Gethuk di Bojonegoro
“Kang Yoto salah satu langganan gethuk saya dari sebelum menjadi Bupati. Kang Yoto masih sering ke sini kadang naik motor kadang naik onthel. Ceritacerita Pak Yoto membuat saya ayem. Saya masih nyimpen uang yang dibayarkan Kang Yoto dulu waktu beli gethuk, ini saya ikat pakai karet”.

Pesan Ibunda
Peran dan teladan Ibu sangat penting bagi kehidupan Kang Yoto. Beberapa saat setelah Kang Yoto diumumkan sebagai pemenang pilkada, ia dipanggil menghadap ibunya di rumahnya yang sangat sederhana. Pesan ibunya adalah agar Kang Yoto amanah mengemban jabatan tidak korupsi.

Bahkan beliau bepesan kepada seorang polisi yang kebetulan juga hadir di rumah itu agar dia menangkap Kang Yoto kalau korupsi. Sang Ibu juga berpesan agar Kang Yoto tidak menempati kamar tidur Bupati di rumah dinas, karena kamar itu bukan miliknya.

Karena itulah Kang Yoto hingga kini memilih tidur di kamar tamu rumah dinas Bupati, dan mempersilakan jika ada tamu untuk tidur di kamar bupati. Ibunda Kang Yoto juga tidak mau untuk datang ke rumah dinas Bupati, karena menurutnya itu bukan rumah Kang Yoto. Hingga meninggalnya, sang Ibu belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah dinas Bupati.

Integritas tinggi sang Ibunda itulah yang diwarisi oleh Kang Yoto untuk selalu amanah menjabat, memimpin dengan hati, bersih dan mengutamakan rakyat banyak.

Anak Kang Yoto rupanya juga berpikiran sama. Mereka juga tidak mau tinggal di rumah dinas Bupati. Kata mereka seperti ditirukan oleh istri Kang Yoto, Mahfudloh Suyoto, “Aku anak ayah
saja, ndak mau jadi anaknya Bupati.”

Baca Juga Dari Kang Yoto

Comments

Loading...